Mengembalikan Kejayaan Perkebunan Indonesia, Negri Kita Pernah Menjadi Negara Penghasil Gula dan Karet Terbesar di Dunia

0
93

(Foto Suasana Konfrensi Pers Saat di Restoran Dua Senayan Jakarta)

`
Jakarta, info BERITASATU – Sejak jaman kolonial, komoditas perkebunan seperti gula, teh, kopi, karet, kakao, kelapa sawit, dan rempah rempah, sudah menjadi andalan ekspor pemerintah kolonial.

Pada saat itu, lndonesia pernah menjadi negara penghasil Gula dan karet terbesar di dunia, begitu pula dengan kopi, dan teh pada peringkat dua dan tiga dunia.

Saat ini, indonesia masih sangat dikenal sebagai negara penghasil enam komoditi utama perkebunan (kopi, kakao, karet, tebu gula, teh dan kelapa sawit). dengan melibatkan lebih dari 9 juta rumah tangga pekebun rakyat, atau sekitar 36 juta jiwa, yang hidup di pedesaan dan perbatasan negara dengan total luas areal sekitar 20 juta hektar.

Dari sisi produksi, lndonesia menempati peringkat terbesar di dunia hanya pada komoditas kelapa sawit; sedangkan karet peringkat kedua setelah Thailand; kopi peringkat keempat setelah ditinggal Brazri, Vietnam, dan India; dan Kakao peringkat tiga setelah Pantai Gading dan Ghana, serta teh kinerjanya sangat menurun sehingga peringkat indonesia sebagai negara produsen teh dunia menurun drastis dari peringkat empat menjadi tujuh.

Bahkan untuk tebu, lndonesia saat ini menjadi negara pengimpor gula terbesar ketiga di dunia. Namun, ke depan, lndonesia mempunyai kekuatan besar karena mempunyai semua potensi komoditas perkebunan di atas (kelapa sawit, karet kakao, kopi. teh, dan tebu), yang tidak dimiliki misalnya oleh Malaysia yang hanya memiliki kelapa sawit dan karet, Thailand hanya karet dan tebu dan sedikit kelapa sawrt, Vietnam hanya karet dan kopi, atau Pantai Gading yang hanya memiliki Kakao.

Di sisi lain, kondisi bisnis perkebunan, kecuali kelapa sawit, dalam lima tahun terakhir mengalami kemunduran cukup signifikan karena turunnya harga komoditas, produktivitas rata rata yang relatif rendah dan kondisi iklim yang tidak bersahabat. Hal inipun seperti yang dikutip dari press release ‘Mengembalikan Kejayaan Perkebunan Indonesia’ saat di Restauran Dua Nyonya Senayan, Jakarta, Rabu (16/08)

Hal ini terlihat dari pertumbuhan deVisa beberapa komoditas utama perkebunan seperti karet 11.4 miliar USD tahun 2011 menjadi USD 3.4 miliar USD (2016); teh 0.16 juta USD (2011) menjadi 0.11 juta USD (2016); sedangkat kelapa sawit, karena diselamatkan oleh pertumbuhan produksi yang naik signifikat, sehingga devisa yang dihasilkan sebesar 17,7 miliar USD tahun 2011 dan naik sedikit menjadi 18,1 milyar USD tahun 2106 Pertumbuhan produksi meningkat cukup tajam dalam lima tahun terakhir pada kelapa sawit 43%, namun sangat kecil pada komoditas karet (56%), kopi (01%), bahkan negatif pada komoditas kakao (-7.8%), teh (-4.5%). Luas areal komoditas umumnya tumbuh stagnan bahkan negatif, kecuali kelapa sawit dan kakao yang tumbuh di atas 5% tahun (brt/release)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here